Dalam Meminjam

March 17, 2009

Berulangkali saya cari sandal butut saya,namun tidak saya temukan.Daripada malu-tidak mungkin khan,datang ke kantor ‘nyeker’-saya pinjam sandal salah seorang pengurus masjid.Ternyata,sandal saya dipakai oleh seseorang yang sedang makan di dekat masjid.Daripada tidak enak,saya pergi saja.Sehari setelahnya,sandal butut saya sudah raib,tidak ada jejaknya.

Disebuah mushola kantor disediakan beberapa buah sandal jepit untuk dipergunakan para pegawai.Beberapa hari kemudian,sudah tidak ada sendal lagi di mushola itu.Entah jengkel atau yang lainnya,akhirnya disediakan sendal bakiak.Beberapa waktu kemudian,sendal bakiakpun ‘habis’ tak tersisa.

Mungkin anda akrab dengan kedua kasus diatas.Kita sering menganggap kecil sesuatu,sehingga dengan mudahnya kita meminjam tanpa permisi ataupun meminjam tanpa mengembalikan.Padahal,bisa saja,pemilik benda yang kita pinjam sangat membutuhkan benda tersebut.Gejala apakah ini? Entahlah,saya tidak tahu.Tapi,berdasarkan perenungan saya,penyebabnya adalah :

1.Seperti yang saya ungkapkan tadi,Kita sering menganggap kecil sesuatu.Kita menganggap remeh benda yang kita pinjam.Ah,cuma sendal ini.Ah,cuma buku ini.Mungkin ini yang terlintas di benak kita.Perlu kita ketahui,sekecil atau seremeh apapun suatu benda,kalau bukan milik kita,berarti bukan hak kita.Tidak boleh kita mengambil tanpa seijin pemiliknya.

2.Kita merasa sungkan (Atau gengsi?) untuk berbicara dengan pemilik benda tersebut.Padahal,ini lebih baik bila dibandingkan kita mengambil tanpa izin.Dengan meminta izin pemilik benda yang kita pinjam,diharapkan pemilik tidak kebingungan mencari.

3.Perasaan memiliki.Milik kamu milik bersama.Ini yang sering kita temukan di asrama-asrama,tempat kost dan tempat yang lainnya.Seperti memakai tanpa izin handuk,sabun teman sekamar atau satu kost.Padahal,ini kebiasaan yang kurang baik,bisa jadi kita terkena penyakit kulit atau yang lain,karena kita tidak tahu apakah benda yang kita pinjam terbebas dari penyakit atau tidak.Atau bisa saja kita akan dituduh sebagai pencuri karena hal ini.

4.Perasaan ingin memiliki benda orang lain.Atau ingin memiliki sesuatu secara gratis.

5.Bagi yang meminjam tapi tidak mengembalikan,mungkin karena malas untuk mengembalikan benda tersebut.Ini yang terjadi pada saya.Salah seorang teman meminjam buku yang lumayan banyak kepada saya.Buku adalah salah satu harta berharga bagi saya.Tapi,sudah beberapa tahun dia tidak mengambalikan satupun buku saya.Padahal sudah saya sms,telepon,bahkan sampai datang ke rumahnya.Akhirnya saya relakan saja buku-buku tersebut.

Mungkin karena banyak yang seperti itu,meminjam sesuatu tanpa izin,atau meminjam sesuatu tanpa dikembalikan,menjadi hal yang lumrah pada masyarakat kita.Kelumrahan yang tercela,yang sepatutnya kita tinggalkan.Seharusnya kita merenung,betapa sebagian besar benda didunia ini diperoleh dengan tidak gratis.Kita harus mengeluarkan uang untuk membeli barang yang bahkan menurut kita sangat remeh.Dan untuk memperoleh uang,serupiah demi serupiah,bukankah harus ada perjuangan untuk itu? Perhatikan hal ini!

Sesama manusia,tidak boleh saling merugikan.Harus saling menjaga hak satu sama lain.Perbuatan meminjam tanpa izin atau meminjam tanpa mengembalikan,termasuk menafikkan hal ini.Seperti kisah saya tadi,mungkin saya tidak menderita kerugian besar karena cuma kehilangan sendal,tapi saya dirugikan dengan rasa malu apabila saya ke kantor dengan kaki telanjang.

Di dalam tulisan saya yang berjudul “Kejujuran Adalah Aset” dikemukakan,bahwa sesuatu yang besar bermula dari yang kecil.Pelanggaran kita terhadap hal-hal yang kita anggap kecil-apabila dilakukan terus menerus-,membuahkan peremehan terhadap hal tersebut.Peremehan tersebut akan meningkat sedikit demi sedikit tingkatnya-sesuai bagaimana kita ‘menyemainya’-,dan apabila kita membiarkannya,tingkat peremehan tersebut menjadi sangat besar.Mengambil barang orang lain tanpa izin atau meminjam tapi tidak mengembalikan merupakan hal-hal kecil yang apabila diremehkan,akan menjadi kebiasaan dan apabila sudah meningkat menjadi sifat kita,bisa meningkat menjadi korupsi,pencurian besar,bahkan perampokan-tergantung kesempatan yang ada-.

Untuk itu,sebelum menjadi kebiasaan atau bahkan sifat,mari kita hindari hal tersebut.Meminta ijin sebelum menggunakan barang orang lain tidaklah sulit.Begitu juga mengembalikan barang yang kita pinjam.Mungkin pada awalnya kita kurang nyaman,tapi lebih baik daripada kita merugikan orang lain.Semoga kita terhindar dari sifat-sifat yang merugikan diri kita dan orang lain.

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://duadua.blogsome.com/2009/03/17/dalam-meminjam/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design