Batas Kemampuan

April 24, 2009

Dalam melaksanakan sesuatu,kita dituntut untuk selalu bersungguh-sungguh.Tidak boleh setengah-setengah atau bermalas-malas.Sebab,keberhasilan suatu usaha tidak bisa dicapai,kecuali dengan kesungguh-sungguhan.Alangkah ruginya orang yang melaksanakan sesuatu dengan asal-asalan.Sebab,dia akan menyia-nyiakan waktunya karena melakukan hal yang tidak ada hasilnya.

Kesungguh-sungguhan juga harus dimiliki oleh orang yang menginginkan cita-citanya tercapai.Orang yang hanya bercita-cita,tapi tidak bersungguh-sungguh untuk mencapainya,adalah seorang pengangan-angan,seorang pemimpi sejati yang mengharapkan bintang jatuh dari langit.Orang semacam itu tidak pantas untuk hidup di dunia yang penuh persaingan seperti sekarang.

Tapi,sikap sungguh-sungguh atau yang kita namakan dengan bekerja keras,tidak boleh berlebihan kadarnya.Harus melihat batas kemampuan yang kita miliki.Setiap manusia memiliki batas kemampuan yang terdiri dari batas fisik dan batas mental,yang apabila kita melanggarnya,akan menimbulkan efek negatif yang besar.

Batas fisik,berarti ambang batas kemampuan manusia untuk beraktiftas secara fisik.Seperti kemampuan bekerja,kemampuan manusia untuk bekerja rata-rata 12 sampai 14 jam,dengan diselingi istirahat.Apabila kita terus menerus bekerja tanpa istirahat,atau dengan sedikit istirahat,bisa saja kita akan tertimpa kelelahan yang amat sangat,yang bisa membahayakan nyawa kita.

Sedangkan batas mental adalah ambang batas manusia menerima tekanan secara mental.Contohnya,orang yang secara mental lemah,tidak bisa menerima kegagalan dan tekanan yang bersifat negatif lainnya,tidak pantas beraktifitas sebagai pebisnis,caleg dan pekerjaan yang lainnya yang sifatnya menang kalah.Sebab,andaikan mengalami kegagalan dan kemudian menyisakan tanggungan seperti hutang,dikhawatirkan mentalnya tidak kuat untuk menerimanya.Hingga bisa berakibat stress,depresi,kegilaan bahkan bunuh diri.

Kita harus menyadari,tubuh kita mempunyai hak.Mental kita juga mempunyai hak.Tidak boleh kita membebaninya terlalu keras.Seperti mesin,apabila dibebani terlalu keras,akan cepat rusak,apalagi manusia.

Jika ada yang bertanya,mengapa ada orang yang bisa melawan batas kemampuannya dan tidak ada sesuatu yang terjadi pada dirinya,maka saya jawab: Sebenarnya yang dia lawan bukan batas kemampuan yang dia miliki,akan tetapi Asosiasi atau Persepsi tentang batas kemampuan itu.Asosiasi atau Persepsi inilah yang memberi gambaran yang berbeda dengan yang sebenarnya.Dengan kemampuan dan kepercayaan yang dia miliki,dia hancurkan paradigma yang bercokol di kepalanya dan menemukan bahwa ambang batas kemampuannya masih jauh.

Sebagai penutup,saya hanya mengingatkan,bahwa dalam melakukan sesuatu atau mencita-citakan sesuatu harus secara moderat.Tidak menyepelekannya sehingga asal-asalan,juga tidak mengerjakannya secara keras,dengan melupakan bahwa kita memilki batas kemampuan.Sikap pertengahan adalah sikap orang yang bijaksana.

Sikap Tenang

April 18, 2009

Air beriak tanda tak dalam,peribahasa yang mempunyai arti bahwa orang yang bodoh banyak bicaranya.Tapi,sebenarnya,peribahasa ini mempunyai banyak arti selain itu.Kita bisa mencari artinya dengan melihat fenomena yang terdapat pada air.Kita lihat air,semakin dangkal tempatnya,semakin banyak gerakannya.Sebaliknya,semakin dalam tempatnya,semakin tenang.Sigmund Freud berpendapat bahwa hukum-hukum dinamika bisa diterapkan pada personalitas manusia sebagaimana berlaku pada tubuhnya.Bahasa mudahnya,fenomena-fenomena yang terjadi di alam,sebenarnya juga terjadi pada manusia.Sifat air secara tidak langsung sama seperti sifat kita.Jadi,peribahasa ini berarti juga semakin tidak dalamnya seseorang-yang berarti semakin tidak dewasa dan bijaksananya seseorang-,semakin berkurangnya sifat tenang yang ada padanya

Berbicara tentang sikap tenang,diantara manusia ada yang bersikap tenang ketika menghadapi berbagai masalah.Tapi ada juga,orang yang bersikap tenang ketika tertimpa masalah kecil,tapi tidak bisa seperti itu ketika tertimpa masalah besar.Ada orang yang bisa bersikap tenang ketika tertimpa masalah besar,tapi anehnya ketika ada masalah kecil,dia tidak seperti itu.Yang paling buruk,adalah orang yang tidak bisa bersikap tenang ketika tertimpa setiap masalah,besar atau kecil.Mungkin kita,saya dan anda, termasuk kelompok yang terakhir.

Bersikap tenang berarti bersikap seperti sebuah batu.Dia tetap kokoh berdiri,walaupun ditimpa angin,hujan ataupun badai.Orang yang bersikap tenang tidak akan banyak mengeluh dan tidak gelisah,dia akan bersabar dengan apa yang dia terima.Maka dari itu,hal pertama yang harus kita miliki adalah kepasrahan terhadap apa yang ditakdirkan kepada kita.Kita meyakini apa yang ditakdirkan terjadi pasti terjadi,dan apa yang tidak ditakdirkan pasti tidak akan terjadi.Yakinilah,apa yang ditakdirkan kepada kita adalah yang terbaik untuk kita.

Sikap optimis juga diperlukan agar sifat tenang diraih.Sebenarnya,sikap optimis adalah sifat tenang itu sendiri.Sikap optimis bisa didapatkan dengan meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan selalu membantu kita.Untuk itu,kita harus memperbanyak berdoa kepadaNya.Setelah itu kita bertawakal dan menyerahkan hasilnya kepadaNya.

Memang,ada orang yang memang wataknya bersifat tenang.Tapi,tidak tertutup kemungkinan,orang yang tidak bersifat seperti itu,memilikinya.Untuk itu diperlukan belajar dan mencoba terus-menerus.Kita bisa belajar kepada orang-orang yang bijaksana.Atau minimal,menjadikan mereka teman,agar kita bisa meniru sifatnya.Tidak ada kata terlambat untuk berubah.

Rumah

April 8, 2009

Sebenarnya,fungsi rumah bukan hanya sebagai tempat untuk tinggal dan berteduh.Terdapat fungsi lain yang lebih penting dari itu.Bolehlah kalau kita mengkombinasikannya dengan Teori Hierarki Kebutuhan yang dicetuskan Abraham Maslow,untuk mengetahui berbagai macam fungsi yang terdapat pada rumah.Rumah yang disebutkan disini bukan hanya sebuah bangunan tempat tinggal.Tapi meliputi komunitas yang tinggal di bangunan tersebut,yang kita namakan keluarga.

Rumah Sebagai Kebutuhan Pokok Manusia

Untuk melindungi diri dari gangguan alam seperti hujan,badai,dan gangguan binatang,manusia jaman dahulu bermukim di gua.Seiring dengan perkembangan akal dan estetika,manusia membangun rumah dengan memahat batu atau membuat rumah panggung yang sederhana.Jaman bergulir dan karena manusia semakin pandai,bangunan rumah bukan hanya berfungsi sebagai tempat tinggal,tapi juga mencerminkan kekayaan,kemewahan dan kemegahan.

Tapi semewah dan semegah apapun suatu rumah,kalau tidak memenuhi fungsi utamanya,yaitu sebagai tempat tinggal,maka tidak layak disebut sebagai rumah yang ideal.Seperti sebuah padang rumput tanpa binatang di atasnya.Rumah,walaupun sederhana,ataupun hanya mengontrak,apabila sudah memenuhi fungsi utamanya,sudah cukup untuk membuat kita bersyukur.

Rumah Sebagai Tempat Yang Aman

Rasa aman merupakan tingkat kedua kebutuhan manusia di dalam Teori Hierarki Kebutuhan.Rasa aman disini bukan hanya secara fisik,tapi juga secara psikologis.Rumah,harus bisa memberikan rasa aman kepada penghuninya.Antara penghuni satu dengan yang lain harus bekerja sama untuk mewujudkannya.Apalagi orang tua sebagai pemimpin rumah.

Banyak kasus menyebutkan,di dalam rumahpun rasa aman kadang susah diperoleh.Kasus seperti anak yang diperkosa oleh ayah kandung,ibu yang dibunuh oleh anaknya sendiri banyak kita dengar di berita.Selain itu,kekerasan psikologis,seperti omelan,cacian,hinaan dan intimidasi juga kerap diterima oleh para anggota keluarga.Kalau di rumah saja tidak aman,bagaimana dengan tempat yang lainnya?

Rasa aman dapat dicapai dengan keimanan dan ketakwaan.Setelah itu,dengan toleransi,empati dan tenggang rasa.Merasakan sakit apabila ada anggotanya sakit. Saling membantu kalau ada yang kesusahan dan saling melindungi.Kalau sudah seperti itu,rasanya tidak mungkin antara anggota keluarga yang satu dengan anggota keluarga yang lain saling menyakiti.

Rumah Sebagai Tempat Mencurahkan Kasih Sayang

Dr.Frederich Goodwin menduga,”Telah terjadi erosi besar-besaran terhadap keluarga inti.Berlipat gandanya angka perceraian dan semakin sedikitnya waktu yang disediakan orang tua bagi anak-anak.”

Dr.Teddy Hidayat,SpKJ,seorang psikiater menanggapi pernyataan Goodwin tersebut di sebuah rubrik konsultasi kesehatan,”Dengan semakin maju dan modernnya suatu masyarakat,semakin sedikit orang yang tinggal di rumah karena harus bekerja dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka di luar rumah.Semakin banyak orang tua yang tidak peduli terhadap kebutuhan anak sewaktu anak tumbuh kembang.” Dengan kata lain,banyak orang tua yang lalai memberikan kasih sayang kepada anaknya.

Anak yang kurang kasih sayang,dikhawatirkan mencari ‘kasih sayang’ di luar rumah.Bisa saja dia akan bergaul dengan remaja berandalan,atau dengan orang-orang rusak lainnya.Atau mungkin sebaliknya,dia akan susah untuk diterima di kelompoknya.Orang tua tidak boleh egois,tidak boleh asyik dengan dunianya sendiri.Dia harus bertanggungjawab dengan memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya.Kasih sayang orang tua tentu berbeda dengan kasih sayang pembantu dan yang lainnya.Kasih sayang disini,bukan berarti memanjakan dengan tanpa batasan.Kasih sayang berarti memberikan yang terbaik untuk kemaslahatan.Oleh sebab itu,kadang-kadang sikap keras diperlukan,tapi kelembutan lebih diutamakan.

Rumah Untuk Kepercayaan Diri

Kepercayaan diri erat kaitannya dengan motivasi.Dan motivasi didapatkan karena kasih sayang.Tapi kita lihat,banyak orangtua yang pelit untuk memberikan pujian atau apresiasi positif lainnya ketika anak melakukan hal yang positif.Sebaliknya,ketika anak berbuat sedikit kesalahan,cacian dan omelan langsung terlontar.Anak yang terbiasa disalahkan akan menjadi anak yang rendah diri,dan akan berpengaruh terhadap kepribadiannya saat dewasa.

Sebuah keluarga yang saling mendukung satu sama lain adalah keluarga yang sehat dan berpotensi menghasilkan manusia dengan mental yang bagus,yang kuat dan tabah dalam menghadapi tantangan hidup.Sebaliknya,keluarga yang penuh dengan cemoohan dan cacian akan melahirkan manusia-manusia rapuh dan cengeng yang akan lembek dalam menghadapi tantangan hidup.Memang dalam hal ini diperlukan kesabaran.Tapi,ini konsekuensi kalau kita menginginkan anak-anak kita sehat secara mental.

Rumah Sebagai Tempat Pendidikan

Pernyataan diri (Self Actualization) merupakan tingkat kebutuhan yang tertinggi dalam Teori Hierarki Kebutuhan.Ini merupakan kebutuhan untuk tahu dan mengerti,kepuasan akan kebutuhan pengetahuan.Kebutuhan ini akan muncul bila semua kebutuhan sudah terpenuhi.

Rumah,merupakan tempat pendidikan yang pertama bagi anak.Dan termasuk yang paling utama dan terbaik.Orang tua adalah guru dan contoh utama tingkah laku anak.Anak akan meniru tingkah orang tua,baik atau buruk.Perlu sebuah tulisan khusus untuk membahas ini,supaya tulisan ini tidak terlalu panjang.

Penutup

Tulisan diatas tidak mencerminkan kalau fungsi rumah hanya sebatas itu.Masih banyak fungsi rumah yang mungkin jauh lebih penting,yang luput dalam pembahasan.Yang paling penting,mulai saat ini,kita menata kembali kehidupan keluarga kita.Jangan bermimpi ingin merubah bangsa,kalau untuk mengurus keluarga saja tidak becus.Ingat,sesuatu yang besar bermula dari yang kecil.Mulai dulu dari keluarga kita,kemudian baru yang lain.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design