Menunda-Nunda

May 31, 2009

Sudah lama juga saya tidak menulis.Beberapa minggu ini pikiran saya disibukkan menanti kelahiran anak kedua.Alhamdulillah,pada hari Senin tanggal 25 Mei 2009 kemarin,pukul 21.20 WIB,anak saya lahir.Buah hati saya tersebut,saya beri nama :

Muhammad Hisyam Fadhlurrahman

Salah satu cerita dalam pengalaman melahirkan kemarin adalah keteledoran saya mengecash hp,dan parahnya lagi,cash nya ketinggalan.Sehingga,saat istri melahirkan,hp saya dalam keadaan mati.Sikap menunda-nunda sayalah yang menyebabkannya.Memang hanya hal kecil,tapi menyebabkan keluarga besar gelisah menanti berita.

Berbicara tentang sikap menunda-nunda,mari kita sedikit membahasnya.Sikap menunda adalah menangguhkan melakukan hal yang sebenarnya bisa dilakukan sekarang.Kata nanti adalah pasangannya.

Padahal,sebuah kesempatan,bisa datang dan pergi tanpa bisa kita prediksikan.Orang yang menunda-nunda bisa kita ibaratkan dengan orang yang mencoba menangkap binatang yang hinggap di pepohonan,tapi dia tangguhkan keinginan itu,dengan alasan bahwa binatang itu masih akan terus hinggap di pepohonan tersebut.

Mungkin,ini salah satu hal yang menyebabkan bangsa kita masih saja terpuruk dalam berbagai macam krisis.Bangsa kita masih menunda-nunda untuk memperbaikinya secara total.Padahal,kesempatan masih terbuka lebar,orang yang cerdas-bahkan jenius-banyak,sumber daya alam melimpah.Bila dibandingkan dengan Jepang dan bangsa-bangsa Eropa pasca perang dunia,kondisi kita jauh sangat baik.Tapi,kita ketinggalan jauh dengan mereka,mereka dengan sangat cepat mampu memperbaiki bangsanya dalam berbagai macam aspek,dan menjadi negara maju.

Solusinya,adalah sebelum memutuskan untuk melakukakan sesuatu,kita harus memiliki alasan yang kuat.Sebuah alasan yang kuat akan melahirkan kesadaran untuk tidak menunda-nunda.Masing-masing kita adalah penjaga palang kereta api yang harus segera menuntup palang apabila kereta api akan lewat,supaya tidak terjadi kecelakaan.

Tapi,bukan berarti kita harus tergesa-gesa.Sebelum melaksanakan sesuatu,harus kita pikirkan secara tenang,tidak boleh tergesa-gesa.Tapi ketika keputusan telah diambil,jalankanlah keputusan tersebut secara cepat.Bukan menunda-nunda.Itu yang benar.

Semoga kita menjadi orang yang tidak suka menunda-nunda.

 

Buah Kesabaran

May 12, 2009

Orang yang bijaksana adalah orang yang mampu melihat sesuatu dari beberapa sisi,dari beberapa sudut pandang.Artinya,dalam menyimpulkan sesuatu,tidak hanya berdasarkan apa yang nampak pada pandangannya.Sebab,apa yang nampak pada pandangan bisa saja tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.Selain itu, mungkin ada suatu hikmah yang tersembunyi,yang tidak bisa dilihat kecuali dari sudut pandang yang berbeda.Inilah yang harus kita lakukan ketika tertimpa masalah, agar senantiasa optimis dan tidak berburuk sangka terhadap apa yang telah ditetapkan kepada kita.

Cobaan demi cobaan,ini yang dialami Dedi (bukan nama sebenarnya) dalam menjalani hidup.Cobaan pertama,anak tirinya yang baru duduk di kelas empat SD,meninggal di pangkuannya.Cobaan kedua,pria berusia 25 tahun yang menikahi janda dua anak berusia 38 tahun ini,diusir oleh keluarganya.Begitu pula istrinya.Mungkin karena tidak merestui pernikahan pasangan tersebut.

Berdua mereka mengarungi hari-hari tanpa tujuan di kota Jakarta.Berjalan dan terus berjalan,itulah yang mereka lakukan.Dengan kondisi yang sedang hamil muda,sang istri terus saja setia mengikuti suaminya.Kerabat,tentu saja mereka punya.Tapi mereka tidak sudi membantu.Bagi orang yang tidak sabar,keadaan yang memaksa seperti itu bisa saja menjerumuskannya kepada hal-hal yang negatif.Tapi tidak dengan Dedi.Dihadapinya cobaan itu dengan kepala dingin,dengan tetap tenang.Dibesarkannya hati istrinya.Sebab,hidup tidak selalu seperti itu.Selalu ada cahaya di setiap kegelapan.

Orang yang bijaksana,mengetahui kemiskinan dirinya.Dia tahu,Yang Maha Kaya tidak akan pelit member ikan karunia Nya.Untuk itu,diperlukan ibadah dan doa.Mungkin, Dedi sadar akan hal itu.Dihidupkannya hari-hari nya dengan dzikir-dzikir panjang sesudah Sholat.Memang,masjid merupakan pemberhentian terakhir segala kesusahan hidup.Di sela-sela dzikir panjangnya,seorang pengurus Masjid mengajaknya berbicara.Ternyata,sang pengurus Masjid masih satu daerah dengannya.Menjadi akrablah keduanya.

Singkat cerita,Dedi menceritakan perjalanan hidupnya kepada sang pengurus Masjid.Mungkin karena iba,pengurus masjid tersebut berniat membantu dengan mengajaknya berbisnis kecil-kecilan.Dedi menyanggupinya.Sang pengurus masjid meminjam beberapa ratus ribu kepada temannya.Uang tersebut dibelikan dua termos besar dan kopi sachet dalam jumlah yang banyak.Dengan itu,Dedi berjualan kopi.Penghasilannya lumayan.Sekitar 50 ribu sehari.Satu kesulitan telah terbuka.

Masalah datang lagi,masyarakat sekitar mempertanyakan mengapa Dedi dan istrinya terus menerus tinggal di Masjid.Untuk mengantisipasinya,sang pengurus Masjid meminta tolong seorang pemilik kost-kost an di
sekitar masjid untuk menampung mereka dengan pembayaran apabila sudah mempunyai uang.Pemilik kost-kost an menyanggupinya.Satu kesulitan terbuka lagi.

Saya teringat dengan apa yang dikemukakan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di di dalam kitabnya Al Wasailu Al Mufidah Lil Hayatis Saidah,”Ketika suasana keruh,hendaknya anda menciptakan suasana yang jernih dan manis.Dengan demikian,jernihnya kelezatan dan kenikmatan hidup akan bertambah dan suasana yang keruhpun akan sirna.”

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design