Buah Kesabaran
Orang yang bijaksana adalah orang yang mampu melihat sesuatu dari beberapa sisi,dari beberapa sudut pandang.Artinya,dalam menyimpulkan sesuatu,tidak hanya berdasarkan apa yang nampak pada pandangannya.Sebab,apa yang nampak pada pandangan bisa saja tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya.Selain itu, mungkin ada suatu hikmah yang tersembunyi,yang tidak bisa dilihat kecuali dari sudut pandang yang berbeda.Inilah yang harus kita lakukan ketika tertimpa masalah, agar senantiasa optimis dan tidak berburuk sangka terhadap apa yang telah ditetapkan kepada kita.
Cobaan demi cobaan,ini yang dialami Dedi (bukan nama sebenarnya) dalam menjalani hidup.Cobaan pertama,anak tirinya yang baru duduk di kelas empat SD,meninggal di pangkuannya.Cobaan kedua,pria berusia 25 tahun yang menikahi janda dua anak berusia 38 tahun ini,diusir oleh keluarganya.Begitu pula istrinya.Mungkin karena tidak merestui pernikahan pasangan tersebut.
Berdua mereka mengarungi hari-hari tanpa tujuan di kota Jakarta.Berjalan dan terus berjalan,itulah yang mereka lakukan.Dengan kondisi yang sedang hamil muda,sang istri terus saja setia mengikuti suaminya.Kerabat,tentu saja mereka punya.Tapi mereka tidak sudi membantu.Bagi orang yang tidak sabar,keadaan yang memaksa seperti itu bisa saja menjerumuskannya kepada hal-hal yang negatif.Tapi tidak dengan Dedi.Dihadapinya cobaan itu dengan kepala dingin,dengan tetap tenang.Dibesarkannya hati istrinya.Sebab,hidup tidak selalu seperti itu.Selalu ada cahaya di setiap kegelapan.
Orang yang bijaksana,mengetahui kemiskinan dirinya.Dia tahu,Yang Maha Kaya tidak akan pelit member ikan karunia Nya.Untuk itu,diperlukan ibadah dan doa.Mungkin, Dedi sadar akan hal itu.Dihidupkannya hari-hari nya dengan dzikir-dzikir panjang sesudah Sholat.Memang,masjid merupakan pemberhentian terakhir segala kesusahan hidup.Di sela-sela dzikir panjangnya,seorang pengurus Masjid mengajaknya berbicara.Ternyata,sang pengurus Masjid masih satu daerah dengannya.Menjadi akrablah keduanya.
Singkat cerita,Dedi menceritakan perjalanan hidupnya kepada sang pengurus Masjid.Mungkin karena iba,pengurus masjid tersebut berniat membantu dengan mengajaknya berbisnis kecil-kecilan.Dedi menyanggupinya.Sang pengurus masjid meminjam beberapa ratus ribu kepada temannya.Uang tersebut dibelikan dua termos besar dan kopi sachet dalam jumlah yang banyak.Dengan itu,Dedi berjualan kopi.Penghasilannya lumayan.Sekitar 50 ribu sehari.Satu kesulitan telah terbuka.
Masalah datang lagi,masyarakat sekitar mempertanyakan mengapa Dedi dan istrinya terus menerus tinggal di Masjid.Untuk mengantisipasinya,sang pengurus Masjid meminta tolong seorang pemilik kost-kost an di
sekitar masjid untuk menampung mereka dengan pembayaran apabila sudah mempunyai uang.Pemilik kost-kost an menyanggupinya.Satu kesulitan terbuka lagi.
Saya teringat dengan apa yang dikemukakan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di di dalam kitabnya Al Wasailu Al Mufidah Lil Hayatis Saidah,”Ketika suasana keruh,hendaknya anda menciptakan suasana yang jernih dan manis.Dengan demikian,jernihnya kelezatan dan kenikmatan hidup akan bertambah dan suasana yang keruhpun akan sirna.”
