Menangkap Dua Kelinci

June 22, 2009

O.S Marden pernah berkata,”Siapa yang ingin sekaligus menangkap dua ekor kelinci,biasanya tak akan menangkap satu ekorpun.”

Mari kita bahas kata-kata diatas.

Kebanyakan,orang yang ingin langsung menangkap dua ekor kelinci,tidak dapat menangkap satu ekorpun.Tapi,walaupun begitu,tidak tertutup kemungkinan untuk melakukan hal tersebut.Ini bukan masalah bisa atau tidak,tapi masalah kemampuan.Seseorang yang baru mencoba menangkap kelinci atau yang belum lihai,tentunya akan kesulitan menangkap dua ekor kelinci secara sekaligus.Tapi,berbeda dengan orang yang sudah lihai,mungkin dia mampu menangkap dua,tiga,bahkan empat secara sekaligus.

Dalam mengerjakan sesuatu,kita terkadang seperti penangkap kelinci tadi.Dengan tanpa melihat kemampuan diri,kita mengerjakan beberapa hal secara sekaligus.Sehingga,hasilnya justru kurang atau tidak memuaskan.Atau bahkan semuanya menemui kegagalan.Fenomena ini mudah kita temukan di sekitar kita,betapa orang yang baru memulai usaha seperti berjualan,tetapi langsung mengambil lebih dari satu lini usaha.

Saya teringat dengan seorang pengusaha di bidang pendidikan.Dia memiliki sebuah tempat pendidikan pra sekolah yang termasuk paling bagus di kotanya.Dari tempat yang semula mengontrak,kini sudah memiliki tempat sendiri yang bagus.Dan memiliki fasilitas yang lumayan lengkap.Tapi,masalahnya,ketika dia mencoba ‘menangkap kelinci yang lain’-yang sebenarnya masih juga dalam bidang pendidikan-keuangan perusahaannya timpang.Sehingga mengalami masalah keuangan yang cukup parah.

Seperti yang saya katakan,ini bukan masalah bisa atau tidak.Tapi masalah kemampuan.Menahan diri untuk melakukan satu hal terlebih dahulu,memungkinkan kita untuk belajar mendalami hal tersebut.Ketika satu hal telah dikuasai,maka salah satu pondasi telah tertanam.Dan ini yang paling penting.Selain itu,juga agar pondasi-pondasi penting lainnya seperti keuangan menjadi kuat.

Intinya adalah fokus.Berulang kali,saya mengingatkan kawan yang mencoba berbisnis,untuk memfokuskan diri untuk satu usaha saja serta mendalaminya.Setelah semua dipelajari,saya yakin,banyak pintu kesempatan yang tidak terlihat,akan muncul.Ini akan sangat membantu perkembangan usaha.

Kita lihat,banyak orang sukses hanya dari satu lini usaha.Pemilik Starbuck kaya hanya dari kopi,Jeff Bezos sukses hanya karena Amazon.com dan masih banyak lagi.Ini contoh,betapa mereka telah berhasil melihat pintu-pintu kesempatan yang tidak terlihat.

Memang,tidak ada salahnya seseorang memiliki lebih dari satu lini usaha.Tapi dengan syarat,masing-masing lini usaha atau salah satunya,sudah memiliki pondasi yang kuat.Tapi,bagi anda yang baru mencoba memulai usaha,saran saya,lebih baik anda fokus dalam satu usaha dahulu.Setelah usaha anda berkembang,memiliki pondasi yang kuat dan memiliki tim yang solid,anda boleh mencoba memulai usaha yang lainnya.Dengan catatan,jangan mencampuradukkan keuangan usaha anda yang baru dengan keuangan usaha yang lama.Masing-masing harus berdiri sendiri.

Menyikapi Orang Lain

June 11, 2009

Perbedaan manusia dengan makhluk yang lain,adalah manusia diberi akal.Dengan akal,manusia bisa membedakan yang baik dengan yang buruk.Dengan akal,manusia bisa mengetahui mana yang berbahaya dan mana yang bermanfaat.Dengan akal,manusia bisa bisa mengetahui mana yang menguntungkan dan mana yang merugikan.Demikianlah fungsi akal,dan masih banyak lagi andaikata manusia mau berfikir dan merenunginya.

Akal,seperti halnya pisau,bisa tajam dan bisa tumpul.Agar akal selalu tajam,harus diasah dengan sering dipergunakan dan selalu ditambah gizinya.Gizi akal adalah pengetahuan dan pengalaman.Dengan memperhatikan hal-hal disekeliling kita,mengambil pelajaran dari setiap kejadian,berguru kepada cerdik pandai,dan membaca buku.Tegasnya,orang yang berakal adalah orang yang belajar.Terus menerus,bertahap,dan hasilnya adalah: kematangan.Betapa banyak orang yang tidak matang dalam usianya yang sudah matang,karena mereka tidak mau belajar.Tidak mau mempergunakan akalnya.

Ketika manusia dihadapkan dengan manusia yang lain-yang pastinya terdapat perbedaan dalam pandangan,pengetahuan,dan tujuan-maka peran akal sangat diperlukan.Saya yakin,akal mampu membedakan mana orang yang baik dan mana orang yang tidak baik,walaupun kadang-kadang tertipu dengan penampilan luar.Supaya tidak tertipu,maka kita harus waspada,dan bertanya apabila ada yang mencurigakan.

Tapi,prasangka baik tetap diutamakan.Kita meyakini bahwa orang lain itu baik,selama tidak menemukan ‘cacat’ atau keburukan pada dirinya.Terkadang,kita menganggap buruk seseorang hanya karena terpengaruh kata-kata orang lain.Kecuali kalau orang tersebut adil dan amanah,bisa saja hal tersebut didasarkan kepada kebencian dan permusuhan.Yang utama adalah cek dan ricek tentang bagaimana keadaan yang sebenarnya.

Jangan sampai kita menyebarkan sesuatu yang buruk tentang orang lain,yang mungkin saja berbeda dengan keadaan yang sebenarnya.Kalau kita seperti itu,berarti kita mencari-cari penyakit dan mengobarkan permusuhan apabila orang tersebut mengetahuinya dan tidak rela.Ini banyak terjadi di sekeliling kita,dimana kehormatan orang lain tidak lagi dihargai.Dimana kesalahan dan kelemahan seseorang menjadi konsumsi publik.Kita harus bijaksana dalam menyikapi hal tersebut.

Kehormatan manusia,lebih berharga dari harta.Tidak boleh kita menjatuhkannya,menginjak-injaknya,kecuali ada alasan yang haq.Seharusnya kita sadar,bahwa kita juga tidak mau diperlakukan seperti itu.Nah,kalau kita tidak mau kehormatan kita diinjak,bukankah orang lain juga seperti itu?

Akal adalah rasa malu,malu untuk melakukan keburukan.Malu untuk merugikan orang lain.Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak memiliki rasa malu.Akal adalah rasa takut,takut akan akibat buruk dari perbuatan kita.Oleh karena itu,orang yang berakal adalah orang yang berhati-hati.Dan: memiliki hati.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Viewfinder Design